Rabu, 06 Oktober 2010

PEMBUNUHAN JENDRAL JHON KELLY KWALIK

INILAH PERMAIN POLITIK LIBRALISME INDONESIA POLISI 100 PERSEN KELLY KWALIK

SENIN,21 DESEMBER:09.57

DI

KUTIP OLEH

J.ROBBYE AMOKWME

24 DESEMBER 20010.:09.57

Meski hari libur, Kapolri tetap ke Mabes untuk memantau persiapan Polri dalam mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru. Yang dimaksud CD adalah rekaman saat Kelly bertemu dengan sejumlah pejabat keamanan di Papua di sebuah tempat yang dirahasiakan.
Menurut Kapolri, keluarga menolak melakukan tes DNA lantaran berbenturan dengan adat istiadat. “Makanya kita mendekati saksi-saksi. Dan dibantu dengan gambar CD, video yang ada. Karena itu (data) menjadi kualitatif,” katanya. Kapolri mengucapkan selamat pada tim yang berhasil melakukan operasi. Penangkapan Kelly Kwalik penting untuk stabilitas keamanan di Papua. Kelly yang menjadi buron selama lebih 10 tahun diduga sebagai dalang sejumlah kasus penembakan misterius yang terjadi di kawasan Papua. “Keberadaan Kelly Kwalik di wilayah tengah, artinya (penangkapan) ini sangat penting,” katanya.
Penyergapan bernama sandi 'Operasi Kencana Lestari' berlangsung intensif sejak Oktober 2009. Penyergapan dilakukan tim khusus di bawah koordinasi Deputi Operasi Kapolri yang terdiri dari Brimob Polri, Detasemen Khusus 88 Antiteror, Badan Intelijen Keamanan Polri, dan jajaran Polda Papua. Tim itu dibentuk setelah penembakan misterius terjadi berturut-turut pada Juli-November 2009. Meski sulit melakukan uji DNA, polisi yakin 100 persen jenazah itu adalah Kelly Kwalik. Kini, jenazah Kelly Kwalik telah diterbangkan ke Timika melalui Bandara Sentani. Jenazah akan dikembalikan ke pihak keluarga. Terkait ancaman balas dendam dari pendukung Kelly, Kapolri yakin itu tak akan terjadi. “Insya Allah masyarakat tidak melakukan balas dendam dan ada tindakan hukum yang diambil. Harus dipahami oleh semua pihak, karena kita melakukan operasi karena adanya tindakan kekerasan di sana,” kata mantan Kabareskrim itu. Sementara itu, Kapolda Papua Irjen Pol. Drs. Bekto Suprapto MSi yang baru datang dari Timika Jumat (18/12) pagi, langsung menuju ke RS Bhayangkara. Jenazah Kelly Kwalik yang sehari sebelumnya telah dilakukan identifikasi oleh Tim Pusident, ahli DNA dan forensic dan DVI (Disasster Victim Identification) dibawah ketuanya, dr Agung telah selesai dilakukan.
Kapolda Papua kepada wartawan mengakui telah melakukan tes DNA, namun terbentur pada pembandingnya. Dimana identifikasi secara ilmiah terhadap jenazah Kelly Kwalik tersebut dilakukan melalui 3 cara, yakni dengan pemeriksaan sidik jari, tes atau pemeriksaan susunan gigi atau odontology dan tes DNA. Masalahnya ini adalah masalah adat. Anaknya tidak ada yang berani keluar. Ini yang harus dipahami. Tidak berani keluar bukan berarti takut sama polisi, bukan takut sama pemerintah dan takut akibat hukum, tetapi kemungkinan takut karena adat," jelasnya.
Meski demikian, Mantan Kadensus 88 Anti Teror ini mengatakan identifikasi sementara secara ilmiah belum bisa dilakukan, tetapi ada identifikasi lain diantaranya yang dilakukan oleh kerabat-kerabat dekat, teman-teman dekat. "Nanti akan diidentifikasi, yang kenal misalnya dari sejak kecil, Uskup Timika Jhon Saklil, Bupati dan Ketua DPRD dan tua-tua adat di sana yang akan mengidentifikasi, ada tanda lahir, bekas luka, pengenal wajah itu penting. Tapi dari statemen beliau-beliau bahwa melihat itu yakin bahwa jenazah tersebut adalah Kelly Kwalik," ungkap Bekto. Bekto mengakui 100 persen yakin bahwa itu adalah Kelly Kwalik yang selama ini dicari polisi. "Saya 100 persen yakin itu Kelly Kwalik," tegas Bekto. Soal penyergapan terhadap Kelly Kwalik di daerah Gorong-Gorong, Distrik Mimika Baru Timika tersebut? Kapolda mengakui sudah mengetahuinya. Hanya saja, Kapolda membantah jika hal itu dikatakan penyergapan. "Saya luruskan. Itu bukan penyergapan, tapi penangkapan karena ini proses hukum. Karena berbeda antara penyergapan dan penangkapan. Itu adalah penangkapan," jelasnya. Kapolda mengatakan bahwa orang yang mengenal Kelly Kwalik akan mengetahui tentang siapa Kelly Kwalik, apalagi prinsipnya, karena hanya ada 2 pilihan bagi Kelly Kwalik yakni dibunuh atau membunuh.
"Waktu itu, polisi memberi beberapa alternatif untuk menyerah. Saya polisi silahkan menyerahkan diri. Akan tetapi, Kelly Kwalik dengan prinsipnya itu tidak memberi alternatif lain, dan tetap saja mau menembak, jika polisi 1 detik saja terlambat bertindak, maka polisi akan menjadi korban sehingga polisi berusaha melumpuhkan dengan menembak kaki dan tangannya," ungkap Bekto.
Kapolda kembali menegaskan bahwa proses penangkapan hingga penembakan terhadap Kelly Kwalik tersebut, sudah sesuai prosedur Hak Asasi Manusia (HAM) se dunia. "Itu sudah sesuai prosedur Hak Asasi Manusia (HAM) dunia, tapi namanya malang tidak bisa tolak. Saya diskusi dengan dokter forensic, yang menyebabkan Kelly mati adalah kebetulan tembakan tersebut mengenai pembuluh nadi. Kalau kena pembuluh nadi apakah di leher, tangan, selangkangan, pasti akan meninggal. Meskipun berusaha secepatnya ke rumah sakit, tetap saja meninggal karena kehabisan daerah," ujarnya. Kapolda juga menegaskan bahwa tidak ada penembakan mati terhadap Kelly Kwalik, tetapi upaya penangkapan yang dilakukan oleh Polri yang sudah sesuai dengan prosedur. Tepat sekitar pukul 11.00 WIT, jenazah diberangkatkan ke Bandara Sentani untuk diterbangkan ke Timika. Sebelum diberangkatkan, Kapolda Papua Bekto Suprapto bersama Wakapolda Papua Syafei Aksal sempat masuk ke kamar jenazah. Selanjutnya, jenazah Kelly Kwalik yang sudah dimasukan dalam peti yang bertuliskan alm Kelly Kwalik itu dibawa ke mobil ambulan oleh petugas. Di bawah pengawalan yang cukup ketat dari pasukan Brimob, iring-iringan mobil langsung meluncur ke Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura
. Soal pemberangkatan jenazah Kelly Kwalik tersebut, Kapolda Bekto menjelaskan bahwa pihaknya sempat memberikan kesempatan kepada Komnas HAM Papua dan Mama Yosepa Alomang untuk melihat terlebih dahulu. "Hari ini kenapa diberangkatkan jam 11 tepat. Saya jam 09.00 sudah janjian sama Ketua Komnas HAM Papua, Mathius Murib dan Ketua Lembaga Masyarakat Adat Amungme (Lemasa), Lemasa memberikan mandat kepada Mama Yosepa Alomang memberikan mandat kepada Ketua MRP, Agus Alua untuk melihat jenazah Kelly Kwalik," katanya. Sekitar pukul 09.00 WIT, Kapolda mengaku sudah berkoordinasi dengan Mathius Murib dari Komnas HAM Papua untuk berjanji melihat sama-sama jenazah Kelly Kwalik itu pada pukul 10.30 WIT, namun sampai waktu tersebut lewat, tidak datang. Kapolda juga mengatakan sudah menelpon pukul 10.20 WIT, namun tidak diangkat, tetapi Kaplda masih berpikiran positif, sehingga pukul 10.25 Kapolda SMS dan memberikan waktu sampai pukul 11.00 WIT. "Namun toh tidak datang, sehingga jenazah diberangkatkan dengan alasan hari ini tidak ada penerbangan komersial ke Timika, sehingga saya carter pesawat Susi Air. Susi Air memiliki limit waktu 12.30 WIT, kalau lebih alasan cuaca dan tidak bisa kembali lagi ke Jayapura itu kan menambah biaya sehingga saya harus menghormati pihak Susi Air," katanya. Sampai dengan diberangkatkan belum ada yang datang, sehingga Kapolda meminta Komnas HAM dan Mama Yosepa Alomang untuk langsung ke Bandara Sentani dan diberikan untuk melihat jenazah Kelly Kwalik sebelum naik ke pesawat. "Jenazah Kelly Kwalik sangat tenang seperti orang tidur saja dengan senyum. Bukan berantakan, bukan ada bekas-bekas dianiaya. Ada 4 luka tembakan, tapi mengenai kaki dan tangan. Jadi, polisi bermaksud untuk melumpuhkan, bukan untuk membunuh. Tapi apa mau dikata, kena pembuluh nadi," jelas Kapolda. MAMA YOSEPA BERANG Untuk diketahui, sebelumnya Kamis (17/12) Mama Yosepa Alomang yang mengaku jauh-jauh dari Jakarta datang ke Jayapura ingin memastikan kebenaran tewasnya Kelly Kwalik yang jenazahnya sedang berada di RS Bhayangkara Jayapura. Namun keinginan aktivitas perempuan Papua ini, tidak kesampaian, sehingga ia berang lantaran tidak diizinkan melihat jenazah Kelly Kwalik tersebut. Ia juga mempertanyakan siapa yang membunuh Kelly Kwalik dan siapa yang mengizinkan melakukan pembunuhan tersebut, karena ada perlindungan terhadap diri Kelly Kwalik, karena dilindungi oleh HAM (Hak Asasi Manusia). Untuk itu, Mama Yosepa dengan berapi-api mempertanyakan pembentukan Undang-Undang tentang HAM tersebut, apalagi dirinya mendapatkan penghargaan HAM sehingga dapat memberikan kepada Kelly Kwalik. "Tapi, mereka turun seperti itu tanpa izin saya untuk membunuh Kelly Kwalik di dalam rumah dan dibawa seperti kotoran atau binatang," tandasnya. Apakah Mama Yosepa Alomang yakin bahwa jenazah tersebut Kelly Kwalik? Mama Yosepa justru mempertanyakan kenapa dirinya tidak diizinkan menengok jenazah tersebut. "Saya mau lihat dan memastikan bahwa itu Kelly Kwalik yang dibunuh. Tapi, Undang-Undang yang kami terima, tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, tetapi justru dibodohi sendiri. Mestinya dibawa hidup-hidup, kenapa dibunuh. Ada pelanggaran HAM kah tidak, ada aturan kah tidak? Ada hukum kah tidak? Hukum itu siapa yang bentuk? Aturan itu siapa yang bentuk? Negara apa ini he," ucapnya keras.
PENGAWAL KELLYK KWALIK JADI TERSANGKA Sementara itu, Kapolda Papua saat ditanya soal 5 orang yang sempat diamankan saat upaya penangkapan yang dilakukan anggota Densus 88 Anti Teror di Mimika Baru itu? Kapolda mengatakan, sudah ada 1 orang yang ditetapkan sebagai tersangka. "Sudah ada tersangkanya. Harusnya dari hasil pemeriksaan yang bisa ditetapkan sebagai tersangka ada 2, yakni Jeep Murib dan Marthinus. Namun, Marthinus adalah keponakan langsung dari Kelly Kwalik sehingga KUHP melindungi dia, itu namanya keluarga semendak. Keponakan langsung jika menyembunyikan dilindungi oleh Undang-Undang. Sedangkan Jeep Murib ditetapkan tersangka karena di rumahnya tempat Kelly Kwalik tinggal dan bersembunyi selama 5 hari di situ ditemukan ada peluru," jelas Kapolda. Kapolda mengungkapkan bahwa Jeep Murib sudah 12 tahun ikut dengan Kelly Kwalik, sehingga ia merupakan pengikutnya yang setia dan dianggap sebagai anaknya sendiri. Sedangkan, 4 orang lainnya sudah dipulangkan Kamis (16/12) kemarin pagi. Jeep Murib ditetapkan tersangka dan akan diproses hukum lebih lanjut dengan dijerat dengan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat RI No 12 Tahun 1951, dengan ancaman cukup berat.
Kapolda mengungkapkan bahwa Kelly Kwalik menjadi DPO Polda Papua karena terlibat sejumlah kasus diantaranya diduga terlibat dalam penyanderaan Tim Peneliti Cartenz pada tahun 1996, diduga terlibat penembakan terhadap 2 warga Amerika Serikat di Mile 61-62 pada tahun 2002 dan diduga terlibat serangkaian penembakan di area PT Freeport Indonesia, dimana aksi itu diduga kuat atas perintah Kelly Kwalik. Ditanya apakah masih ada DPO lain, selain Kelly Kwalik? Kapolda mengakui masih ada, namun Kapolda tidak hafal berapa orang yang menjadi DPO tersebut. "Ada, masih kami cari. Saya gak hafal itu, masih dicari," tegasnya. Kapolda menghimbau seluruh masyarakat di Tanah Papua untuk bersama-sama menjaga agar daerah Papua aman dan Papua ini maju bersama-sama. MASSA TUTUP JALAN AIRPORT TIMIKA Dari Timika dilaporkan, ratusan warga yang hendak menjemput jenazah Kelly Kwalik, Jumat (18/12), sempat menutup ruas Jalan Airport, menuju Bandara Mozes Kilangin,
tepatnya di Check Point 1 Mile 28, pertigaan menuju Bandara dan Hotel Rimba Papua, Timika. Akibatnya, pengguna jalan baik pejalan kaki, pengendara sepeda motor atau mobil, terpaksa kembali.
Penutupan jalan itu juga mengakibatkan puluhan calon penumpang pesawat, terpaksa berjalan kaki sejauh 100 meter menuju Terminal Bandara Mozes Kilangin Timika. Tak sedikit yang terpaksa memikul barang bawaannya. Begitu pula sebaliknya, penumpang yang baru turun pesawat, terpaksa berjalan kaki ke luar Terminal Bandara.
Massa menutup jalan masuk ke bandara, lantaran rencana mereka ke dalam terminal bandara untuk menjemput jenazah Kelly Kwalik yang dibawa kembali dari Jayapura, sempat dihalau polisi. Situasi sempat tegang saat ratusan warga memaksa masuk terminal bandara dengan menembus barikade personel Polres Mimika yang dilengkapi tameng dan tongkat. Aksi massa tidak menimbulkan tindakan anarkis. Setelah jenazah orang yang diduga Kelly Kwalik dievakuasi dari Bandara Sentani, Jayapura tiba di Timika dengan penerbangan pesawat udara Sushi Air, Jumat (18/12), tokoh-tokoh masyarakat menggelar rapat di ruang pertemuan DPRD Kabupaten Mimika. Rapat itu membicarakan prosesi selanjutnya terhadap jenazah tersebut. Hadir juga Direktur Lembaga Masyarakat Adat Amungme (Lemasa) Nerius Katagame. Pertemuan masih berlangsung hingga malam. Jenazah Kelly Kwalik tiba di Bandara Timika sekitar pukul 14.00 WIT. Sekitar pukul 15.00 WIT, jenazah dibawa menuju Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) dengan mobil ambulance yang dikawal mobil patroli Satlantas Polres Mimika. Sejak pukul 15.30 WIT Jumat kemarin, jenazah Kelly Kwalik disemayamkan di RSMM dengan penjagaan oleh Brimob. Dari pantauan Radar Timika kemarin di Kantor DPRD, puluhan ibu-ibu yang dirundung duka nampak menangis. Mereka mempersiapkan tempat persemayaman jenazah. Ada juga krans bunga simbol duka cita.

Jadi kalau kita di analogi penyampaian polri itu bukannya membangun tanah papua tetapi yang di bangun adalah pelarangan HAM hak asasi manusia banyak pembunuhan,pemerkosaan,dan penyiksaan,.Dan kalau kami lihat kemabali lagi ideology pancasila atau uud 45 dia mengatakan bawah:A.Bahwa sesungguhnya penjajahan di dunia harus di hapus karena tidak sesusi dengan kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh rakyat ini manusia yang adil dan beradab ini didasarai oleh lembaga kemanusiaan yang diadakan oleh manusia.B.ia mengatakan juga bawah setiap orang memiliki hak dan kewajib untuk mengeluarkan aspirasi,secara kelompok maupun individual,karena hak asasi manusia tidak bias di pisahkan dengan alas an apapun, Hak asasi manusia adalah suatu lembaga tertinggi yang di percayakan oleh rakyat,masyrakat,bangsa,Negara,

PEMBUNUHAN JENDRAL JHON KELLY KWALIK

Pertanyaan Umum

Pertanyaan Umum